Dahulu, pada zaman Jahiliyah, masyarakat Arab memiliki prasangka buruk terhadap bulan Syawal. Mereka menganggap Syawal adalah bulan yang penuh kesialan untuk menggelar pernikahan. Kepercayaan ini berakar dari mitos bahwa unta betina enggan dikawini pada bulan tersebut.
Namun, pandangan ini berubah total setelah Islam datang. Syawal yang dulunya dianggap pembawa sial, justru bertransformasi menjadi bulan yang sangat dianjurkan untuk melangsungkan pernikahan.
Hal ini didasarkan pada teladan langsung dari Rasulullah SAW. Beliau mematahkan mitos tersebut dengan menikahi Ibunda Aisyah ra. tepat pada bulan Syawal.
Ibunda Aisyah ra. sendiri pernah bercerita:
تَزَوَّجَنِي النَّبِيُّ ﷺ فِي شَوَّالٍ، وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ
"Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal, dan mulai membina rumah tangga denganku di bulan Syawal juga."
Menurut pakar tafsir Ibnu Katsir, langkah Nabi menikah di bulan ini bukan tanpa alasan. Beliau sengaja melakukannya untuk menepis prasangka Tasya'um (merasa sial) yang melekat di hati masyarakat kala itu.
Maka bagi kita sekarang, menikah di bulan Syawal bukan sekadar mengikuti trend, melainkan bentuk menghidupkan sunnah Nabi Saw.
Sumber: Kitab Al Bida' Al Hauliyyah hal 348
بِدْعَةُ التَّشَاؤُمِ مِنَ الزَّوَاجِ فِيهِ
فَالسَّبَبُ الَّذِي جَعَلَ الْعَرَبَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ يَتَشَاءَمُونَ مِنَ الزَّوَاجِ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ: هُوَ اعْتِقَادُهُمْ أَنَّ الْمَرْأَةَ تَمْتَنِعُ مِنْ زَوْجِهَا كَامْتِنَاعِ النَّاقَةِ الَّتِي شَوَّلَتْ بِذَنَبِهَا بَعْدَ اللَّقَاحِ مِنَ الْجَمَلِ.
قَالَ ابْنُ كَثِيرٍ -رَحِمَهُ اللهُ- (وَفِي دُخُولِهِ ﷺ بِهَا - بِعَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا- فِي شَوَّالٍ رَدٌّ لِمَا يَتَوَهَّمُهُ بَعْضُ النَّاسِ مِنْ كَرَاهِيَةِ الدُّخُولِ بَيْنَ الْعِيدَيْنِ خَشْيَةَ الْمُفَارَقَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ، وَهَذَا لَيْسَ بِشَيْءٍ).
فَالتَّشَاؤُمُ مِنَ الزَّوَاجِ فِي شَهْرِ شَوَّالٍ أَمْرٌ بَاطِلٌ؛ لِأَنَّ التَّشَاؤُمَ عُمُومًا مِنَ الطِّيَرَةِ الَّتِي نَهَى النَّبِيُّ ﷺ عَنْهَا بِقَوْلِهِ: (لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ)
(Gus Dewa Menjawab)
Sumber foto: BAZNAS
